March 12, 2015

#JurnalSyukur (Day 12)




Merasa setuju dengan pernyataan di atas? Atau sekedar merasakannya? Ya, saya pernah merasakannya. Mungkin sebagian orang di luar sana juga bisa mengangguk setuju. Entah dengan cara menyadarinya sendiri sambil tersenyum atau melalui cuplikan sinetron dimana si kaya dan miskin yang tertukar.

Contoh simple lain adalah menjadi anak laki laki yang mendapatkan perlindungan berlebihan (overprotektif) dari orang tua. Belum ada di rumah saat matahari perlahan tergelincir tenggelam, maka puluhan panggilan telpon dari ibunya akan singgah di ponselnya. Merasa risih, kesal dan terganggu. Lalu mengeluh.

Sementara ada anak lelaki di luar sana yang sengaja pulang malam. Tidur-tiduran di kosan temannya sambil menunggu panggilan telopn dari sang ibu yang memintanya untuk pulang. Atau sekedar menanyakan keeradaannya. Kehidupan yang kalian pikir tertukar dan kalian harapkan satu sama lain.

Tapi benarkah semua itu?

Benarkah, apa yang kita keluhkan adalah apa yang diinginkan orang lain? Benarkah kita tidak membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan ini? Atau hanya kehilangan yang nantinya akan menyadarkan apakah kita akan merindukan dan membutuhkan kehidupan yang kita keluhkan saat ini?

Jawabannya sederhana : Rasa syukur. Kita belum mensyukuri apa yang kita keluhkan. Kita hanya mengeluh, bukan bersyukur. Sepanjang kita terus berkeluh, maka kita akan terus menginginkan kehidupan orang lain. Itu yang saya sadari pada akhirnya.

Bagaimana saya pernah berpikir ingin hidup di tengah gadget terbaru dan menginginkan hidup orang lain di luar sana yang rasanya lebih beruntung dari saya. Tetapi, apakah semuanya sudah benar? Mengapa tidak kita syukuri kehidupan yang telah disuguhkan Tuhan kepadamu, mulai dari kamu membuka mata.

Hal itulah yang kemudian mendasari saya untuk menjalankan sebuah resolusi yang saya namai #JurnalSyukur. Terinspirasi dari cerita Dian Sastro yang menuliskan 10 hal yang kamu syukuri setelah bangun tidur dan sebelum pergi tidur serta seorang wanita yang menuliskan jurnal syukur di tabnya dalam perjalanan pulang kantor di commuter line. Sayapun membuat #JurnalSyukur versi saya yang berisi 10 hal yang saya syukuri dalam 1 hari.

Kegiatan ini sudah memasuki bulan ketiga dan jujur saja rasanya semua begitu dimudahkan. Saya merasa menemukan kemudahan di setiap langkah saya. Di setiap pengambilan keputusan dan proses mengikhlaskan, Tuhan seakan menggelarkan permadani yang membawa saya ke jalan lain yang baru saat saya berani melepaskan dan memilih.

Saat saya mensyukuri setiap kesempatan dan jalan yang disuguhkan Tuhan, maka saya percaya Dia memiliki rencana tersendiri yang baik bagi saya. Tugas saya adalah terus mensyukurinya, menjalankan sebaik mungkin dan berpikiran positif akan setiap rencanaNya. Sekuat itu rasa syukur yang kamu ciptakan dalam dirimu akan memepengaruhi pikiranmu.

Ingatlah, hal besar tidak akan menjadi besar jika bukan karena sekumpulan hal kecil yang menjadi satu. Jadi, mulailah bersyukur dari hal hal kecil. Mulai dari setiap pagi kamu mampu membuka mata dan tetap bisa melihat dunia. Bayangkan, jika pada suatu hari kamu membuka mata, tapi yang terlihat adalah gelap.

Bersyukur saat kamu mampu menyapukan jemarimu ke layar ponsel untuk mengecek notification. Bayangkan jika suatu hari tanganmu merasa kram dan tak mampu digerakkan. Bersyukur saat kamu terbangun di atas kasur yang empuk dan selimut hangat, sementara ada banyak orang yang harus tidur dalam dinginnya lantai toko dan bisingnya jalan.

10 hal yang kita syukuri dalam sehari dalam bentuk tulisan sesungguhnya adalah sedikit. Ada 10x lipat yang seharusnya kita syukuri, tetapi saya rasa bisa kita pikirkan dalam kepala dan diyakini dalam hati untuk sisanya. Semoga setelah kita mampu bersyukur, maka tidak ada kehidupan orang lain yang kita inginkan. Kalaupun ada, semoga Tuhan menggelarkan permadani setelah kita mensyukurinya.

Semoga bermanfaat.


0 comments:

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis